Aku tak pernah bisa mengerti… lelaki macam apa yang menikah dengan ku. Kata orang pertengkaran adalah bumbu pernikahan… tapi kenapa… kenapa ‘bumbu’ yang harusnya memper’enak’ rasa pernikahan itu… malah menjadi sebaliknya? Ah… bumbu macam apa itu…

Seperti misalnya pagi ini… ketika aku mengganti keset di kamar mandi yang aku rasa kekecilan dengan yang lebih besar, dia langsung marah-marah dan menuduhku tidak memberi dia kesempatan untuk ikut menata rumah yang sudah dia tempati sebelum kita menikah ini. Duuh Tuhan… hanya masalah keset.

Belum lagi masalah Hans, anakku yang sebentar lagi berumur 2 Tahun. Aku tau suamiku sangat menyayangi Hans, aku tau suamiku sangat memperhatikan cara aku mengurus Hans. Tapi aku juga orang tua Hans… aku ibunya… aku pun sayang padanya… n menurutku… caraku mengurus Hans sudah cukup… tetapi kenapa suamiku masih menganggap kurang?

Entah aturan mana yang ikut diterapkan suamiku untuk Hans. Makan sedikit2 tapi harus sering… habis makan begini… habis begini begitu… tidur siang jam segini… intinya Hans harus selalu dalam pengawasan dan jadwal ketat 24 Jam. Hans memang termasuk anak aktif, aku malah curiga dia hiperaktif. Beberapa bulan yang lalu, ketika aku repot di dapur, Hans aku taruh di dalam ‘kurungan’ baby supaya dia tidak bisa keluar. Sepuluh menit pertama… semua masih aman2 aja. Hans masih asyik bermain2 di sana. Tapi setelah 10 Menit pertama… aku mendengar bunyi ‘BUKKKK’ keras sekali… kemudian tangisan Hans. Tergopoh2 aku kembali ke ruang dimana aku menaruh Hans tadi… ternyata Hans berusaha untuk keluar dari ‘kurungan’ itu… tapi karena tidak bisa… ditendangnya kayu2 kurungan itu sampai dia kesakitan sendiri. Hmmm… mungkin memang tidak terlalu berlebihan suamiku menuntut aku terus2an mengawasi Hans. Tapi aku lelah… itu kenapa begitu suamiku pulang kerja, aku langsung menyerahkan Hans kepadanya… tanpa kusadari… suamiku juga lelah seharian di kantor.

Dan ku akui memang aku emosi. Pernah secara spontan aku lempar nasi yang sedang aku ambil untuk makan malam ke arah suamiku. Pernah juga aku pukul suamiku dengan sandal. Itu semua cuma wujud spontanitasku karena dia marahnya meledak-ledak… teriak-teriak… sampai2 aku khawatir tetangga2 dengar. Untungnya kita tinggal di sini… bukan di rumahku dulu di Jakarta… dimana kalo terdengar ribut2 dari tetangga… mereka malah pasang telinga baik2.

Bukan hanya teriak2… suamiku juga menelpon ke Indonesia, ke Jakarta, ke rumah orang tuaku dan ke rumah kakak iparku… wah intinya kalo kita sedang ribut… Melbourne – Jakarta seperti tidak ada jaraknya saja.