Selamat jalan papa mertuaku, Lie Swie Tien. tubuhmu boleh terpisah dengan kami, tapi kenangan denganmu akan selalu ada di hati kami…
We love you, Pa!

* * *

Bagai disamber petir… berita duka ini dateng terlalu mendadak. Tidak ada berita tentang sakit-penyakit… tidak ada keluhan apapun yang FIL sampaikan kepada kami. Tepat dua minggu yang lalu gua mimpi. Mimpi gigi gua copot berdarah-darah. Gua sempet ngomong ke Dav… tapi Dav cuma bilang, “Itu bunga tidur.”

Malam berikutnya gua mimpi lagi… mimpi yang sama… gigi gua copot berdarah-darah… dan lagi2 Dav bilang, “Itu cuma bunga tidur! Jangan dibawa perasaan.”

Dan gua cuma bisa berdoa… semoga mimpi itu memang bener2 bunga tidur!

Dua minggu setelahnya… tepat hari Kamis malam, 24 September, Dav bilang, “Barusan koko telepon… papa udah ga ada.”

Ya Tuhan… kenapa? Sakit apa? Ada apa ini? Dan tanpa pikir panjang, gua n David berangkat malam itu juga ke Tulungagung… naik mobil bareng2 dengan anak, menantu, dan cucunya yang lain.

Gua emang pengen ngerasain naik mobil ke Tulungagung… tapi bukan dalam suasana seperti ini…😦
Suasana tegang menyelimuti sepanjang perjalanan kami… gua terus terbayang2 mimpi gigi copot gua… gua terus terbayang2 berita duka yang gua denger dari Dav…

16 jam perjalanan kami… dalam kondisi ngebut… akhirnya sampai juga kita di Tulungagung. Langsung ke rumah duka… dan suasana duka langsung menyelubungi kami.

FIL yang selalu tersenyum setiap gua ajak ngobrol…
FIL yang selalu bilang ke gua untuk hidup ga perlu neko2…
FIL yang selalu menolak setiap kali gua ajak tinggal di Jakarta…
Dan FIL adalah satu2nya orang yang tidak pernah tanya, “Kamu sudah isi?” ke gua…
FIL kini sudah tiada… sudah terbujur kaku… sudah dimandikan… dan siap masuk ke dalam peti…

* * *

Kamis sore… FIL baru selesai olahraga. Sejak menderita kolestrol tinggi, FIL emang rajin gerak2 badan dan jaga makan. Selesai berolahraga, setelah ganti baju, mendadak keringat dingin membanjiri tubuhnya. FIL mengeluh punggungnya sakit.

FIL masuk ke kamar, punggungnya digosok balsem. MIL ajak FIL bicara tapi FIL ga bisa bicara dengan wajar… sekilas tampak seperti kena serangan stroke. MIL keluar sebentar untuk masak mie instant. Pada saat MIL masuk lagi untuk panggil FIL makan, ternyata FIL tertidur… sambil mendengkur. MIL kira FIL kecapekan… tapi karena mau makan dulu, FIL dibangunin. Panggilan MIL cuma direspon dengan dengkuran yang terdengar ga wajar… dan sampai pada satu tarikan nafas terakhir, dengkuran itu hilang… FIL diam tak bergerak. Pada saat itu FIL telah pergi meninggalkan MIL… meninggal dunia.

* * *

Menurut dokter, FIL kena serangan jantung… bagian punggung sampai belakang leher FIL yang menghitam memperkuat diagnosa dokter. Semua sepertinya ga percaya. Bukankah selama ini FIL ga ada keluhan apa2? Waktu pemeriksaan kolestrol terakhir pun semuanya normal. Bukankah FIL ga ada penyakit jantung? Atau mungkin FIL yang ga mau mengeluh di depan kami? Atau mungkin sebenernya ada keluhan tapi FIL tidak mau kami semua tau? Kami ‘kecolongan’!

* * *

Selamat jalan Papa… Tuhan sangat sayang sama papa… sampai2 papa sudah dipanggil di usia 64 tahun.