Jika…
Sang suami-istri beda presepsi dalam hal ‘pengiritan’.
Si suami… merasa liburan keluar negeri / keluar kota, makan2 di restaurant, beli baju pesta lagi cuma gara2 berkali2 dapat undangan pernikahan dalam komunitas yang sama, menyalurkan hobby membaca dengan cara membeli buku / berlangganan majalah, adalah HAL YANG SAMA SEKALI TIDAK PENTING DAN HARUS DIKURANGI KALAU PERLU DIHILANGKAN. Intinya… si suami menganut prinsip, “Makan untuk Hidup”.

Sementara si istri… merasa langganan TV kabel, langganan AXIS buat internetan dari HP sementara di rumah ada first media, kucluk2 ke pameran ga penting yang end-up MAYORITAS pulangnya beli 1 atau 2 hal ga penting juga *bagi si istri tentunya*, pakai tas bulukan kriwil2, pakai baju itu2 aza setiap x kondangan, adalah HAL YANG SAMA SEKALI TIDAK PENTING DAN HARUS DIKURANGI KALAU PERLU DIHILANGKAN. Intinya… si istri menganut prinsip, “Hidup untuk Makan”.

Jika…
Sang suami ga suka istrinya shopping2 *walaupun pada saat liburan*, sementara sang suami juga ga shopping2 TAPI…
sang suami beliin oleh2 untuk teman2 / kakak, adik, keponakannya, dll segambreng…

Jika…
Sang istri berpikir, kalau untuk DIRI SENDIRI aza dibatasi, masa masih sok2an beliin / kasih ke orang lain?

Minta tanggapan dunk……………….