Gua ini bisa dibilang cukup unik *ga mau dibilang aneh…*

Dari kecil sampai sekarang, gua takutttttt banget sama semua jenis binatang yang ukurannya lebih besar dari kecoa. Kalau kecoa sih gua ga takut… secara sekali injak juga mejret.

Mau binatang jinak… mau binatang yang ga bisa bersuara, gua takuttttttt semua.

Semua berawal di suatu siang di pasar Gg. Waru *ada yang tau dimana?* dua puluh enam tahun yang lalu. Waktu itu… seorang anak perempuan kecil diajak mamanya main2 ke pasar *main2 kok di pasar qiqiqi… yaaaa namanya juga orang dulu yaa…*
Dua puluh enam tahun yang lalu… di pasar Gg. Waru… betis si anak perempuan kecil itu dipatok ayam. Bagaimana rasanya dipatok ayam? Sebenarnya si anak perempuan kecil itu sudah tidak ingat. Tapi trauma dipatoknya masih jelas terpatri dalam ingatannya sampai sekarang.

PARANOIDKAH?

Sampai saat ini, dua puluh enam tahun kemudian, walaupun si anak perempuan kecil itu kini sudah berubah menjadi wanita dewasa, mimpi dikejar2 ratusan ayam masih kerap hadir dalam tidur malamnya.

TRAGIS…

Ya… anak perempuan kecil yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa itu adalah GUA.

Efek dari parno masa lalu itu, gua jadi takutttttt sama semua jenis binatang. Sampai2 ‘soulmate’ gua, Dina, menyebut gua sebagai The Parno’s Queen of Animals ck ck ck…

Gua ga pernah berani adopsi binatang… mulai dari anjing, kucing, apalagi burung, ayam, bahkan ikan hias hikz… Kalau ditanya gua takut apa sama mereka? Gua juga ga bisa bilang. Gua takut digigit, dipatok, diendus2, dijilat2, bersentuhan, membelai, dan semuaaaaaaaaaaa hal yang berhubungan dengan mereka.

Kalau ditanya gua tersiksa ga dengan kondisi ini? Jelas tersiksalah. Kebon binatang, peternakan, pet shop, adalah tempat yang paling ga mau gua datangi.
Makan di kaki lima dimana kucing2 berseliweran? Adalah hal yang paling enggan gua lakukan. Gua prefer beli bungkus, dan makan di tempat yang menurut gua lebih ‘aman’.
Fish SPA yang lagi musim di mall2? Juga sama sekali ga membangkitkan niat gua untuk mencoba… apa rasanya kaki kita dipatil2 ikan gitu? Hiyyyyyyyyyy…
Dan berkunjung ke rumah seseorang yang memelihara binatang, adalah merupakan ‘siksaan’ tersendiri buat gua.

Eh percaya ga… saking parno’nya gua sama unggas ya… gua ga pernah berani pegang daging ayam mentah *yang di jual di pasar, tapi masih berbentuk ayam, belum dipotong2*, gua ga pernah berani pegang kepala + ceker ayam walaupun sudah digoreng dan berbau harum di meja makan, gua bahkan ga pernah doyan sama ayam rebus… karena masih mengingatkan gua pada ayam yang dijual di pasar hiyyyyyyyyyyy…

hahahahaha… serius amat bacanya… Intermezo gua kepanjangan ya…

Nah… tapi yaaa… jodoh mempertemukan gua dengan David. David itu sukaaaaaaaaaaa banget sama binatang peliharaan. Gua pernah lihat dia belai2 kucing jalanan, gua pernah lihat dia becanda2 sama anjing tetangga, gua pernah lihat dia tangkap cicak di rumah dan dibuang keluar rumah, gua pernah lihat dia angkat ayam hidup di rumah cicinya, gua pernah lihat dia tolongin anak burung dari gigitan kucing liar, gua pernah lihat dia pisahin hamster berantem, dan gua pernah lihat interaksi2 sosial dia dengan binatang2 lainnya.

Fiuh… bahkan dia pernah minta anak anjing sebagai kado ulang tahunnya…

Setahun terakhir, lately, gua memutuskan untuk adopt kelinci. Sebenarnya kelinci2 itu mau gua jadiin sebagai therapy menghilangkan keparno’an gua. Tapi kayaknya gua masih belum berhasil nih. Kelinci2 lucu itu… suka berlari2 *loncat2* dan melompat2… kadang2 sampai nabrak2… gua pernah ditabrak. Dan gua selalu takut… takut… dan selalu takut.

Hari ini… pulang kerja, di lapangan rumput dekat kantor gua yang suka dijadiin tempat kerbau dan kambing merumput, kemudian berendam di kubangannya *gileeeeeee serasa di desa ga sih gua tinggal?*, gua mendengar suara ngeong-ngeong kencangggggggggggg. Ihhh… biar gua takut sama binatang gini ya… gua tetap masih ada loh rasa kasihan hahahahaha… Jadi gua deketin tuh sumber suara… gua ngintip… eh ternyata ada anak kucing kurus di balik semak2 itu…

Gua ga pernah pelihara kucing… gua ga tau kalau tuh anak kucing ngeong2an begitu… dia mau apa? Tapi matanya itu kayaknya berharap banget sama gua *ceileeeeeeeeeeee*.

Sorry pus… gua ga berani gendong elu… Jadi gua pulang dulu ke rumah, tunggu sampai David pulang, dan langsung ngajak David naik motor ke sana hahahahahaha…

Si kucing kecil masih ngeong2 gitu…

Dasar penyayang binatang… David dengan gagah beraninya langsung menjulurkan tangan dan memegang leher si kucing… diangkat… di taruh di jalanan. Si kucing kayaknya agak2 takut… dan memutuskan untuk masuk kembali ke semak2 lagi. Duhhhh gimana sih pus… di situ kan daerah jajahannya kerbau dan kambing. Gimana kalau elu keinjak mereka? Jadi gua tetap maksa David untuk angkat tuh kucing kecil, dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Akhirnya si kucing kecil berhasil diangkat David, diangkat, dan dibawa pulang naik motor. Busyettttttttt pas ada jeglokan, kucingnya sempat terlepas dan lompat ke selokan kering loh. Untung ga ada airnya tuh *namanya juga kering ya…* Mana si kucing ngeong2 terus sepanjang jalan… ahhhh menarik perhatian kucing dewasa yang lagi cari makan di jalanan.

David memberhentikan motornya… melongok ke selokan kering… dan si kucing kecil kembali di angkat lagi.

Sampai rumah… si kucing kecil langsung dikasih makanan. Sambil makan, tetap ngeong2 tuh. Mana tetangga gua pelihara banyak anjing lagi. Benar2 menarik perhatian anjing2 deh… langsung pada gak guk gak guk ga jelas begitu… dan efeknya… membuat kelinci gua, si Piyo dan Poli sedikit kaget hikz…

Tapi gimana……………………. si kucing kecil kurus ini tampak demikian sedihnya. Buntutnya turun ke bawah… badannya kurus… dan ga berhenti ngeong2 kayak alarm mobil yang konslet :((

Mau gua balikin lagi ke semak tadi, gua ga tega…
Mau gua lepasin di jalanan, gua takut nanti dia dikejar2 anjing jalanan yang sering mondar-mandir di depan rumah gua…

Akhirnya… yaaaaaaaaa gua biarkan saja itu kucing kecil di lokasi yang sama dengan si Piyo dan Poli hahahaha… Cuma Piyo dan Poli di sebelah kanan, si kucing kecil di sebelah kiri. Piyo dan Poli main2nya di dekat ban motor David, si kucing di dekat ban mobil.
Sama2 suka ‘ngetem’ di dekat ban…
Cuma yang satu jenis pemakan sayuran, yang satu jenis pemakan daging.

Sampai malam ini… si kucing kecil sudah ga terlalu banyak ngeong2nya. Cuma sesekali aza terdengar. Ah… moga2 si kucing kecil dan kelinci2 gua bisa akur yaaaaaaaaaaa…
Si Piyo pernah duduk bersebelahan dengan kucing jalanan yang nekat masuk ke halaman rumah gua soalnya… dan so far… oke2 aza.

Moga2 deh………………….

Akhirnya………. ga disangka2… gua adopt 1 pet lagi. Setelah kelinci 2, kemudian David adopt 6 ‘tikus’ *hamster*, sekarang kucing 1. Tapi mungkin nanti kucing ini gua lepas deh kalau sudah beberapa hari. Takutnya gua ga rajin ngurusinnya…

Uggggggggghhhhhhh…