Tergesa2 ku kejar penerbangan pertama pagi ini. Aku harus segera sampai di sisimu… Mengantarmu kembali kepada penciptamu.

Sejak 12 jam yang lalu handphoneku tak berhenti berdering. Anak-anak kita, dokter, pendeta, family, semua panik mengabarkan kondisimu yang semakin kritis.

“Jantung Mama sudah hampir berhenti Pa… Cepatlah pulang…”, ku dengar suara Lucy di seberang sana.

“Pa, cepatlah kembali……… Dokter bilang Mama tidak akan lewat malam ini…”, ku terima SMS dari Ruz.

“Dear, please be strong… Tunggu aku. Beberapa jam lagi pesawatku berangkat, dan aku akan segera menemuimu…”, sambil menahan tangis, ku ucapkan kalimat itu lewat telepon yang ditempelkan Lucy di telingamu.

Kamu sudah tidak bisa berbicara, kamu sudah tidak bisa bergerak, tapi aku tau kamu bisa mendengar, atau paling tidak merasakan kesungguhanku.

Dan tepat jam 11, aku tiba di rumah sakit. Aku berlari sekuat tenaga menuju ruang dimana kamu dirawat intensif…

“Pa, jantung mama telah berhenti…”, suara serak Ruz terdengar begitu melihatku muncul di pintu kamar ICU.

Ku dekati kamu………
Ku pegang dahimu……… masih hangat.
Ku tahu kamu masih ada……..

“Dear, aku telah kembali… Pergilah dengan tenang. Jangan takut. Di tempatmu yang baru tidak ada lagi kanker yang menyakitkan… Tidak ada lagi air mata… Tidak ada lagi duka dan penghianatan… Tunggu aku di tempatmu yang baru… Kita akan berkumpul kembali di dalamNya… I love you…”

Terbata-bata kubisikan kalimat lirih…
Ku kecup dahi dan pipimu…
Ku belai tanganmu…
Tubuhmu tetap hangat walaupun irama jantungmu di mesin itu sudah 1 garis lurus…

Dan kulihat matamu menitikan air mata…
Ya kamu menangis…

Kemudian tubuhmu menjadi dingin…
Dingin…
Dan semakin dingin…
Pertanda jiwamu telah pergi meninggalkan ragamu…

Selamat jalan, Dear… Selamat bertemu kembali dengan penciptamu…
Terima kasih tetap menyimpan dan memaafkan kesalahanku dimata yang lain…
Percayalah, semua pengorbananmu dan perjuanganmu sangat luar biasa…
Dan aku mencintaimu…

*Dedicate for someone…….. ~Selamat jalan, Auntie…~